Cegah Stunting, Dinas Ketahanan Pangan Intervensi Asupan Pola Makan

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Untuk mencegah semakin meningkatnya kasus stunting, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang, Jawa Timur akan melakukan intervensi pola konsumsi untuk asupan makanan bagi ibu hamil.

 

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kab Malang, M.Nasri Abdul Wahid.

HAL INI disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang, M. Nasri Abdul Wahid, Rabu (13/03/2019) di DPRD.

Dia menyampaikan, selain fokus dalam menjalankan neraca pangan, konsumsi pangan, keamanan pangan, dan cadangan pangan, pihaknya, lewat bidang konsumsi pangan,  akan melakukan intervensi lewat pola konsumsi asupan makanan bagi ibu hamil.

“Berkenaan dengan stunting, kami akan melakun intervensi melalui perbaikan pola asupan makanan, khususnya kepada ibu hamil,” terang Nasri, Rabu (13/03/2019).

Menurutnya, intervensi pola asupan makanan untuk pencegahan stunting akan dilakukan selama masih dilakukan secara sporadis oleh Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) lainnya. “Seperti Dinas Perikanan,  dengan pemberian ikan atau susu oleh dinas lainnya. Sebenarnya, kalau konteksnya ketahanan pangan, itu lebih pas ke kita. Mengapa? Karena kita tahu pola konsumsi masyarakat berdasarkan data dari survey yang kita lakukan,” paparnya.

Menurut pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten  Malang ini, untuk pencegahan stunting, pihaknya akan lebih fokus untuk intervensi pola konsumsi asupan makanan kepada ibu hamil dan balita.

“Tahun kemarin kita mensurvey konsumsi orang dewasa, pola asupan gizinya, protein maupun karbohidratnya. Untuk kasus stunting,  maka intervensi pola konsumsi kita sasar pada ibu hamil. Untuk itu kita harus punya data, dan data ini yang belum kita punya. Untuk itu kita akan melakukan survey kepada ibu hamil, hal yang selama ini belum pernah dilakukan,”ungkapnya.

Dengan mengetahui data pola konsumsi bumil (ibu hamil), intervensi asupan makanan bisa dilakukan. Menurut Nasri, jika berdasarkan data pola asupan, maka bisa diketahui asupan makanan apa yang harus diperbaiki, bisa dari unsur gizi, protein, atau karbohidrat.

“Bukannya kita arogan, tapi untuk pencegahan stunting kita bisa lakukan lewat intervensi pola asupan makanan. Tentunya perlu sinergisitas dengan OPD lain, misalnya Dinas Kesehatan untuk pengobatan,” pungkas Nasri.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus stunting atau balita atau anak yang mengalami gangguan pertumbuhan, mencuat setelah Plt. Bupati Malang, Drs. H.M.Sanusi, M.M mengungkapkan ada 40.323 kasus anak stunting di Kabupaten Malang. Sontak hal ini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Pasalnya, sebelumnya Kabupaten Malang dijadikan pilot project pemberantasan stunting nasional. (diy)