10 Agustus 2022

TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Inilah lima mahasiswa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, yang menciptakan layanan uang elektronik yang diberi nama Wangsaku.

Cegah Penularan COVID, Mahasiswa UMM Ciptakan Layanan Uang Elektronik

Inilah lima mahasiswa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, yang menciptakan layanan uang elektronik yang diberi nama Wangsaku.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR.COM Dalam rangka meminimalisir penularan COVID-19, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, menciptakan layanan uang elektronik. Namanya Wangsaku.

 

INOVASI yang diciptakan Tanthowi Jauhari, Andhika Dwi Aditya, Lale Wiega Arifah Chopsah, Alif Syifa Arsyila (Prodi Informatika), Permaisuri Fatimah Azzahra (Prodi Akuntansi) ini telah diikutsertakan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan  lolos tahap pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Mei 2021.

Salah satu anggota tim, Tanthowi Jauhari mengatakan,  ide pembuatan layanan pembayaran virtual tersebut berawal dari kegelisahan mereka akan tingginya kasus penularan COVID-19, terutama anak-anak.

“Kami khawatir  saat sekolah kembali dibuka, jumlah anak yang terpapar COVID semakin naik karena kontak fisik akan semakin banyak. Hal ini akan  membentuk klaster penularan baru. Karena itu, kami berinovasi untuk mengganti penggunaan uang tunai dengan  uang elektronik di lingkungan sekolah,” terang Tanthowi Jauhari, belum lama ini.

Ini layanan uang elektronik yang diberi nama Wangsaku.

Mahasiswa Prodi Informatika UMM ini menerangkan,  teknologi Wangsaku akan ditanamkan pada gelang sebagai media transaksi. Gelang ini dilengkapi dengan teknologi Near Field Communication (NFC) yang akan memudahkan anak untuk membeli sesuatu tanpa harus melakukan kontak fisik. “Selain berfungsi sebagai media transaksi keuangan, gelang ini juga bisa digunakan sebagai parental controlling karena struk belanja anak akan dikirim ke orang tua,” ujar Antho.

Sampai saat ini Antho dan tim telah merampungkan pembuatan aplikasi Wangsaku dan akan menguji coba pada salah satu sekolah di Malang. Ia bercerita, kendala tersulit dalam pembuatan Wangsaku adalah proses penyusunan database. “Kami harus menghubungkan proses layanan di kasir kantin dengan aplikasi Wangsaku. Hal itu cukup rumit untuk kami,” katanya.

Mahasiswa kelahiran Lombok ini berharap, dengan adanya Wangsaku akan meminimalisir kontak anak-anak dengan benda serta menurunkan  penularan COVID di sekolah. “Saya berharap teknologi ini dapat diterima oleh banyak kalangan dan bermanfaat bagi masyarakat. Semoga Wangsaku juga bisa terus dikembangkan agar dapat memberikan dampak yang lebih dari ini,” pungkasya.  (div/mat)