Burung Anis Merah Jadi Idola Para Penghobi

Komunitas penghobi burung anis merah.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Para penghobi burung berkicau, tentu sudah paham benar  dengan burung anis merah. Selain  suaranya yang merdu, gaya berkicaunya yang seperti orang teler, dianggap menarik, unilk, beda dengan burung-burung lainnya. Karena  itu, burung yang  memiliki nama latin Geokichla Citrina atau Zoothera Cinerea ini menjadi salah satu maskot bagi penggemar burung berkicau.

Salah satu penghobi burung menunjukkan anis merah kesayangannya.

DI INDONESIA, burung kecil  yang memiliki  kepala berwarna orange ini, penyebarannya banyak di Pulau Bali dan sebagian Jawa.  Burung  yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Orange-headed Thrush ini begitu populer, sehingga menjadi favorit para penghobi burung berkicau. 

Karena itu tak heran bila harganya pun melambung tinggi, bisa tembus puluhan juta rupiah,  bila burung tersebut sering diikutkan lomba dan presentasi stabil di suatu kejuaraan. Sebut saja  Zamorano, Juventus, Cut Tari yang sudah melanglang buana di kejuaraan tingkat nasional dan menjadi primadona, harganya cukup mahal.

Salah satu penghobi anis merah di Kota Malang adalah  Herman Vallen. Di  kandang Bolang Single  Fighter Ngalam miliknya, banyak dipajang gico  anis merah. Salah satunya anis merah gempa yang banyak diperbincangkan  di kalangan penggemar anis merah nusantara karena kestabilannya. Prestasi anis merah gempa milik Herman Vallen sudah tidak bisa dihitung lagi. Mulai even regional hingga nasional pernah disabetnya.

“Alhamdulillah, anis merah gempa saat ini masih bisa stabil. Fantastisnya,  gempa kuat main 4 sesi dalam satu kejuaraan,” kata Herman seraya menjelaskan, anis merah yang diperkirakan  masih berumur 3 sampai 4 tahun tersebut punya  segudang prestasi, mulai tingkat latber (latihan bersama), latpres (latihan prestasi),  sampai kejuaraan tingkat nasional.

Menurut Herman, kunci sukses merawat anis merah agar bisa stabil dan berprestasi adalah keuletan dan kesabaran. “Pagi,  selepas subuh, burungnya  diembunkan sampai  jam 07.00 WIB. Selepas embun, dijemur. Setelah itu dikerodong dengan setingan EF dan full masteran sambil istirahat. Untuk mandi,  diusahakan tiap hari,  pada malam hari. Intinya,  semua harus konsisten,” terangnya seraya menambahkan saat ini anis merah kesayangannya ini sudah ditawar Rp 40 juta.  (div/mat)