Bunga Krisan Lebih Menjanjikan Daripada Apel

Bina Desa Putaran Kedua di Poncokusumo

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna salut dengan usaha budidaya bunga krisan di Poncokusumo. Bersama Wakil Bupati Malang HM. Sanusi dan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Nasri, memanen bunga krisan.

Petani apel di Desa/Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang sudah banyak yang beralih menjadi petani bunga krisan. Sebab, dari sisi bisnis, bunga asal Belanda dan Jepang ini dianggap menjanjikan dari pada apel.

Memang, luas lahan bunga krisan di desa yang berada di lereng Gunung Bromo ini belum begitu banyak. Baru 2 ha. Petaninya pun belum sebanyak petani apel, baru 30 orang, dengan rincian 3 orang sebagai pembenih, dan sisanya sebagai pembudidaya. Salah satunya Ketut.

Menurut Ketut, luas green house se Desa Poncokusumo 2 ha. Rata-rata satu green house luasnya 1.000 m2. “Jadi, untuk 2 ha itu terdiri dari beberapa petani pembudadaya krisan. Ada 30 petani. Ada yang budidaya, ada yang jadi pembenihan,” katanya, Selasa (7/2.2017).

Dia menjelaskan, biaya produksi bunya krisan sekitar Rp 400 per batang, mulai persiapan lahan, termasuk bibit, pupuk dan tenaga kerja, sampai panen.

Saat panen, untuk bunga krisan jenis spray (krisan yang satu tangkai bunganya banyak, red), di tingkat petani harganya Rp 800/batang. Kalau yang standart (bungnya hanya satu, kalau lebih dari satu, sejak kecil dihilangkan), biayanya sama, Rp 400/batang. “Tapi harga jualnya lebih mahal, Rp 900/batang, karena resikonya lebih besar. Bunga krisan jenis standart ini, kalau sudah dimakan ulat, tak bisa dipanen lagi. Tapi kalau bunga krisan jenis spray, meski imakan ulat, masih bisa dipanen, karena bunya banyak,” terang Ketut.

Masa panen bunga krisan pun tak lama, hanya 4 bulan, terhitung mulai tanam sampai panen. Tapi ini pun tergantung cuaca. “Kalau musim hujan, masa panennya agak lebih lama, bisa 5 bulan. Tapi kalau musim kemarau, hanya 4 bulan,” jelasnya.

Resikonya pun tak terlalu besar. Menurut Ketut, selama masa tanam, ada penyakit karat daun (petani lebih sering menyebutnya bakteri atau jamur), yang paling banyak dijumpai. Tapi hal ini tak begitu mengganggu, karena bisa diobati dengan berbagai macam obat pertanian.

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna pun salut dengan usaha budidaya bunga krisan di Poncokusumo ini. Bersama Wakil Bupati Malang HM. Sanusi dan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Nasri, kemarin meninjau budidaya bunga krisan ini saat mengikuti acara Bina Desa di Poncokusumo. Bahkan, mereka sempat memanen bunga krisan.

Tidak hanya itu. Bupati Malang juga sempat melakukan dialog dengan para petani bunga krisan. Orang nomor satu di Pemerintahan Kabupaten Malang ini pun kagum dengan perkembangan budidaya bunga krisan yang sangat menjanjikan tersebut.

“Bunga krisan ini sebagai usaha lain para petani di samping apel. Saya berharap, budidaya bunga krisan semakin diperluas dan dikembangkan agar pendapatan petani di desa ini semakin meningkat. Saat ini luas lahan bunga krisan baru 2 ha. Saya berharap ke depan harus lebih ditingkatkan lagi,” kata Bupati Malang usai pertemuan kepada wartawan.

Budidaya bunga krisan di Desa/Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang sudah dilakukan sejak 2008. Ini dilakukan karena hasil buah apel semakin menurun karena diserang berbagai penyakit, salah satunya lonte.
“Memang, sejak 2008 banyak petani apel yang beralih menjadi pembudidaya bunga krisan. Karena pada 2008 banyak apel rusak karena faktor lingkungan. Di antaranya, tanaman apel yang sudah tua, lebih dari 35 tahun, sehingga tak produktif,” kata Solihin, petani krisan.

Selain itu karena banyak hutan yang gundul, sehingga hama-hama penyakit yang sebelumnya tidak dominan menjadi dominan menyerang buah apel. Seperti lonte yang makan bunga apel. “Dulu tidak ada. Adanya hanya di hutan. Tapi setelah hutan habis, lonte ini masuk kebun apel dan menyerang bunga apel dan apel yang masih pentil, sehingga apel menjadi rusak, nilai ekonomisnya kurang menguntungkan,” terangnya.

Melihat kondisi yang tak menguntungkan ini, akhirnya para petani apel, khususnya petani apel yang muda-muda, beralih ke krisan, karena bisa dibudidayakan di sekitaran rumah meski lahannya sempit.

“Cukup menggunakan green house sudah bisa budidaya,” kata Teguh, petani bunga krisan seraya menambah-kan membuat green house ukuran 6 x 30 meter biayanya Rp 11 juta dengan asumsi 1 m2 lahan bisa menghasilkan 100 batang bunga krisan.

Tantangan yang paling berat untuk tanaman bunga krisan adalah batang. “Artinya, petani krisan dituntut batangnya harus besar dan kokoh. Karena saat ditancapkan di vas bunga, kalau kecil mudah patah. Butuh panjang 80 cm. Nah, supaya bisa panjang, kokoh dan kuat, media tanahnya kita olah dengan cara pupuknya dipermentasi. Tapi bagus lagi kalau uvinya (atap yang terbuat dari plastik, red) bersih agar sinar matahari masuk dengan bagus,” terang Teguh.
Dari sisi pemasaran, permintaan bunga krisan sangat banyak, terutama saat momen pernikahan, 17- an dan sebagainya. Mengapa budidaya krisan tak bisa berkembang cepat? “Karena biayanya tinggi. Untuk membangun green house (pondokan) mahal,” jawab Teguh.*