BNPB Gelar Ekspedisi Desa Tangguh Bencana

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Sebagai daerah yang terletak di gugusan jalur berapi atau ring of fire dan daerah pertemuan lempeng benua, Indonesia mempunyai potensi bencana yang kompleks, untuk itu BNPB mengelar Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Tsunami mulai 12 Juli sampai 17 Agustus 2019.

 

Ketua Tim Ekspedisi Destana Tsunami BNPB, Drs.Pangarso Suryotomo (berbaju hitam) dan Kepala BPBD Kab Malang, Drs.Bambang Istiawan saat memberikan sambutan Ekspedisi Destana Tsunami BNPB di Desa Tambakrejo, Sumawe Kab Malang.

 

EKSPEDISI yang diinisiasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), melibatkan beberapa komponen masyarakat, mulai pemerintah, akademisi, media massa, badan usaha swasta dan LSM, dimulai dari ujung pesisir Selatan Pulau Jawa yakni di Banyuwangi, hingga Banten.

Pelaksanaan sosialisasi dan edukasi menghadapi bahaya bencana oleh Tim Ekspedisi Destana Tsunami BNPB kepada para nelayan Pantai Sendang Biru.

Sebagai daerah yang memiliki garis pantai sepanjang 105 km di pesisir Selatan Jawa, dan mempunyai potensi besar terjadi bencana tsunami, Kabupaten Malang menjadi salah satu daerah yang menjadi disinggahi Ekspedisi Destana Tsunami BNPB, tepatnya di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kab Malang.

Kepala Ekspedisi DESTANA Tsunami BNPB, Drs. Pangarso Suryotomo, menjelaskan bahwa tujuan dari ekspedisi ini adalah memetakan dan menilai Desa Tangguh Bencana. “Tujuan kegiatan ini adalah melakukan penilaian terhadap desa tangguh bencana berdasarkan penilaian dari Badan Standarisasi Nasional tentang Desa Tangguh Bencana dan Perka BNPB tentang Desa Tangguh Bencana,” jelasnya, Selasa (16/07/2019).

Menurutnya ada dua indikator penilaian yang digunakan, yakni indikator dasar yang berkaitan penguatan kualitas dan layanan dasar, dan indikator hasil, yang berkenaan dengan penguatan pengelolaan resiko bencana.

“Jadi disini kita hanya memandu dalam melakukan penilaian, nanti desa sendiri yang melakukan penilaian, seberapa siap dalam menghadapi bencana. Dengan begitu bisa dilakukan evaluasi, mana yang kurang. Dan yang kurang akan ditingkatkan tentunya koordinasi dengan Pemda setempat,” beber Pangarso.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Pak Papang ini menjelaskan, dengan potensi bencana yang dimiliki bangsa Indonesia, maka masyarakatnya harus menyadari betul potensi bencana yang ada ditempat tinggalnya, serta tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana.

“Sasaran kegiatan ini adalah menguatkan masyarakat untuk waspada dan tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Alat pendektesi bencana adalah penunjang, tapi yang penting adalah kesiapan orangnya,”jelas pria yang menjabat Kasubdit Peran Masyarakat Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPB.

“Mengapa kita memilih pesisir selatan Jawa, karena jika dibanding dengan pantai utara, pantai selatan lebih tinggi potensial bencananya, mulai dari pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali ke NTT hinga Papua adalah jalur gempa. Tsunami memang bukan hanya dikarenakan gempa saja,”lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Drs. Bambang Istiawan, mengapresiasi langkah yang dilakukan BNPB dengan melakukan Ekspedisi DESTANA Tsunami.

“Wilayah Kabupaten kan memang memiliki kompleksotas potensi bencana, mulai dari gunung berapi, banjir dan tsunami yang penanggananya setial bencana berbeda. Dengan kegiatan ini, kita bisa tahu kan kekuatan kita dalam mempersiapkan dan menghadapi bencana. Kita lakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sesuai dengan potensi gempanya. Pembenahan insfrastruktur jalan dan rambu untuk evakuasi juga kita lakukan terus,”papar Bambang.

Dengan kompleksitas potensi gempa yang ada di Kabupaten Malang, Bambang menghimbau agar masyarakat tidak perlu panik. “Ada dua hal yang bisa dilakukan, jika bisa bencana itu dihindari, jika tidak bisa dihindari maka harus tahu dan mengenali potensi bencana yang ada, mewaspadainya, dan tahu bagaimana nanti menangulanggi atau menyelamatkan diri jika terjadi bencana. Masyarakat harus paham dengan potensi bencana di lingkungan tempat tinggalnya,”tegas Bambang.

Ekspedisi DESTANA BNPB yang rencananya akan ditutup oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo, akan melintasi 584 desa, 24 Kabupaten dan 5 Provinsi di Pulau Jawa. (diy)