TABLOID JAWA TIMUR

Informasi Daerah Jawa Timur

Bermain layangan di tanah lapang, lebih aman bagi pemain dan pengguna jalan.

Bermain Layangan, Hiburan di Kala Pandemi COVID-19

Bermain layangan di tanah lapang, lebih aman bagi pemain dan pengguna jalan.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Saat pandemi COVID-19 masih berlangsung seperti sekarang, pemerintah belum membuka tempat wisata. Bahkan, wisata pantai di Malang selatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang sempat buka beberapa saat, kini ditutup kembali. Untuk menghilangkan kejenuhan, anak-anak dan orang dewasa pun bermain layangan.

 

SELAIN menyenangkan, permainan tradisional ini dipilih untuk meluangkan waktu di sore hari. Karena sekarang masih musim kemarau, dan tiupan angin pun cukup mendukung, sehingga setiap sore, langit-langit Malang Raya sering dihiasi kertas berwarna-warni.

Inilah hiburan murah meriah di musim COVID-19.

Tapi yang diterbangkan  bukan layangan hias yang berukuran jumbo, melainkan layangan aduan yang tingginya sekitar 54 cm. Namanya layangan aduan, sehingga kalau sudah terbang ke langit,  harus diadu dengan layangan lainnya. Di sinilah yang menarik sekaligus memuaskan dan menegangkan. “Saat mengadu layangan, kita harus siap kalah. Bermacam -macam teknik dipelajari agar menang,” kata salah satu pemain layangan di wilayah Batu, Senin (14/07/2020) sore.

Midoen (18), salah satu anggota komunitas pecinta layang-layang di Kota Malang mengatakan, setiap sore, bilamana angin memungkinkan, dia dan teman-temannya menerbangkan layangan. “Apalagi saat pandemi begini  kita cari hiburan biar tidak stres di rumah. Semua orang berkumpul, tua muda  jadi satu di lapangan ini,  dengan tetap jaga jarak, untuk mencari kesenangan,” ujarnya.

Dia menambahkan, tiap minggu, mereka menggelar turnamen kecil-kecilan agar silaturahmi antar penghobi tidak hilang. “Kita cari senang di sini. Tua muda kumpul jadi satu di lapangan. Kalau kita main layangan di persawahan atau lapangan, minimal resiko kena senar berkurang. Tidak akan melukai pengguna jalan,” ujarnya.

Keseruan memuncak ketika dua layang-layang saling beradu benang. Kemahiran sebagai pilot layang-layang dipertaruhkan. Kecepatan tangan dalam menarik serta ketepatan mengulur benang, menjadi penentu layang-layang siapa yang bakal terjun bebas duluan. Namun, perlu hati-hati, tajamnya benang bisa melukai jari. Sebab itu, kemahiran serta pengalaman sangat dibutuhkan dalam mengemudikan layang-layang ini.

Tak hanya berhenti di sini. Kesenangan lain muncul saat ada layang-layang yang putus. Anak-anak pemburu layangan langsung berhamburan mengejar dan berlomba mendapatkan layangan yang sudah putus itu. Mereka memacu napas dengan kepala menghadap ke atas supaya bisa memprediksi ke mana arah layangan putus itu akan jatuh.

Menurut Midoen, selain sebagai hiburan di masa pandemi, bermain layangan juga memberikan pesan moral tentang pentingnya menjaga semangat dan sifat pantang menyerah. (roz/mat)