Berburu Karomah di Makam Kanjeng Jimat

Kanjeng Jimat. Semasa hidupnya, dikenal sebagai sosok yang pinunjul dibidang ilmu pemerintahan. Hal lain, juga mumpuni dibidang ilmu keagamaan, khususnya Islam. Saat sekarang, keberadaan makamnya tak pernah sepi peziarah yang sengaja datang dari berbagai daerah di tanah Jawa. Apa yang mereka cari ?

 

Makam Kanjeng Jimat.

SUASANA hening langsung menyambut saat kaki melangkah di pekarangan makam Kanjeng Jimat. Pusara tokoh pinunjul itu, letaknya menyatu dengan lokasi Masjid Yoni Al-Mubarok, tinggalan almarhum, di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Makam Kanjeng Jimat dikerudungi kelambu putih berpadu kain kuning emas berenda, di sisi utara samping nisannya, berdiri kokoh payung susun dua berwarna kuning emas. Tiap hari, ada saja peziarah yang datang ke makam tokoh pinunjul dalam babagan ilmu pemerintahan itu.” Saya mau ziarah ke Kanjeng Jimat, “kata Sukamto (64) warga Ngantru, Trenggalek, Jatim.

Ada prasasti, persisnya di bagian selatan kijingnya yang bertuliskan huruf Arab tapi berbahasa jawa. Kalimat itu terbaca. “Puniko Pesarean Kanjeng Ratu Toemenggung Sosro Kusumo.”

Kalimat itu bisa dimaknai bahwa jasad yang sumare dalam makam tersebut adalah Kanjeng Jimat. Adapun yang patut untuk diteladani dari almarhum, selain mumpuni dibidang ilmu pemerintahan, yang bersangkutan juga pintar dalam ilmu agama. Oleh sebab itu, tidaklah heran manakala banyak peziarah yang datang ke makamnya untuk menghirup karomahnya, meski beliau sudah wafat kisaran 1251 Hijriyah atau 1763 tahun yang lalu.

Penentang Belanda
Fakta lain dari Kanjeng Jimat, beliau merupakan pejuang yang ulung. Kegigihannya dalam menentang penjajah Belanda, tak lagi diragukan. Sebab itulah, almarhum punya arti tersendiri bagi masyarakat Nganjuk khususnya.
Sejarah tutur menyebut, Kanjeng Jimat merupakan bupati kelima di Kadipaten Berbek, sekaligus sebagai bupati pertama di kabupaten berjuluk Anjuk Ladang itu. Tokoh sakti ini adalah putra menantu Sultan Agung dari tlatah Mataram. Meski telah lama wafat, akan tetapi keberadaan makamnya masih terus ramai peziarah yang datang dari berbagai daerah. Tokoh sakti ini juga dikenal cukup santun dan juga dermawan.

Sikapnya yang gigih dalam menentang kolonial, menjadi bukti kalau beliau tak sudi hidup terus-menerus hidup di telapak kaki penjajah. Kharomah sang bupati pertama itu masih terus diburu, oleh siapapun yang mendamba keselamatan.*