Berburu Batik Unik ke Negeri di Atas Awan

Camat Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Marendra Hengky Irawan, menunjukkan batik Ngadas.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang  dikenal sebagai desa wisata di atas awan karena berada di ketinggian 2.150 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini, tidak hanya mengandalkan potensi alam dan budaya untuk menarik minat wisatawan. Tapi juga menyuguhkan  industri batik yang unik, punya ciri khas tersendiri, yang tidak ditemukan di daerah lain.

  

CIRI KHASNYA itu terletak di motifnya. Menurut Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Adas, Timbul Urip, ada tiga motif batik Ngadas. Pertama, motif bunga adas (adas pulosari).

“Daun adas banyak manfaatnya. Seperti untuk menghilangkan bau mulut (menyegarkan pernafasan) dan mengatasi sesak nafas. Sedangkan buahnya bisa dipakai untuk mengatasi flu. Di sini, bunga adas sangat banyak dan tumbuh liar. Bahkan, kalau tumbuhnya di perkebunan, dianggap sebagai tanaman pengganggu sehingga sering dibabati (dibersihkan),” katanya, Sabtu (05/10/2019) di Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang,  saat mengikuti Pesona Desa Wisata 2019.

(Dari kanan ke kiri) Sekretaris Pokdarwis Dewi Adas Timbul Urip, Camat Poncokusumo, Marendra Hengky Irawan, Ketua Pokdarwis Dewi Adas Sujak, salah satu pembeli kain batik (perempuan) dan Bendahara Pokdarwis Dewi Adas Harjo menunjukkan batik Ngadas saat pameran di acara Pesona Desa Wisata di Ngadirejo, Kecamatan Jabung.

Mengapa memilih bunga adas sebagai ciri khas batik Ngadas? “Kita memang ingin memperkenalkan Desa Ngadas dengan ikonnya bunga adas. Sebab, awalnya Desa Ngadas ini berupa hutan adas, sehingga dinamai Desa Ngadas. Nah, kami ingin menjadikan bunga adas ini sebagai ikon Desa Ngadas melalui motif batik,” jawab Bendahara Pokdarwis Dewi Adas, Harjo yang menjaga stand Desa Ngadas.

Salah seorang pengunjung (perempuan) memilih kain batik didampingi Ketua Pokdarwis Dewi Adas, Sujak dan Bendahara Pokdarwis Dewi Adas, Harjo.

Kedua, motif tumbuhan babonan yang juga  hidup di Ngadas. Menurut Timbul Urip, bunga tumbuhan ini biasanya dimakan untuk lalapan. “Tanaman ini tumbuh liar. Biasanya tumbuh di tebing-tebing, dan termasuk tumbuhan liar, sehingga saat menjelang HUT RI selalu dibersihkan,” jelasnya.

Ketiga, motif bunga wulung. Menurut Timbul, bunga ini biasanya  tumbuh di tempat-tempat yang  sakral, seperti di punden dan sanggar.  Kalau pun tumbuh di tempat lain selain di punden dan sanggar, biasanya tidak bisa tumbuh normal. “Tapi kalau di punden, bisa tumbuh subur, mungkin karena tanahnya disakralkan sehingga tidak ada yang mengganggu. Penyebarannya tak banyak, karena hanya tumbuh di sanggar dan punden (danyang). Dua tempat ini adalah tempat yang disakralkan,” terangnya.

Menurut Timbul, sanggar berasal dari kata sanggar pamujan, yakni  tempat memuja orang Ngadas pada  zaman dulu sebelum agama masuk. Sedangkan danyang adalah tempat berkumpulnya roh orang Ngadas yang sudah meninggal. “Tanaman wulung ini tumbuh sepanjang tahun. Biasanya berbunga pada saat musim hujan,” katanya.

Namun sayang, meski punya motif yang khas dan unik, tapi batik Ngadas belum diproduksi secara masal dan belum dipasarkan secara luas, karena keterbatasan tenaga kerja (pembatik) dan belum punya ijin.

Menurut Harjo, jumlah produksinya tergantung pesanan. Waktu pameran di Banyuwangi beberapa waktu lalu misalnya, ada pesanan 35 lembar. Pembatiknya diambil dari Kecamatan Karangploso,  Kabupaten Malang. Mengapa? “Karena warga Ngadas lebih fokus di pertanian. Padahal, sebetulnya mereka mampu dan bisa membatik,” jawab Harjo.

Padahal, menurut Camat Poncokusumo, Marendra Hengky Irawan, S.STP, M.AP, jika  diproduksi masal, dia yakin tidak ada yang menyamai batik Ngadas, karena motifnya unik dan adanya hanya di negeri di atas awan (Ngadas).  Bahkan, batik tulis ini  harganya  murah, hanya Rp 170 ribu per lembar.  “Makanya, kalau bisa, diproduksi secara masal saja, karena bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Selain itu juga bisa menjadi cindera mata wisatawan yang datang ke Ngadas,” harapnya.

Apalagi jumlah wisatawan yang datang ke “negeri di atas awan” ini sangat banyak. Menurut catatan Ketua Pokdarwis Dewi Adas, Sujak, jumlah wisatawan asing yang datang ke Ngadas setahun mencapai 1.200 orang. Biasanya mereka datang di bulan Agustus – September. Sedangkan wisatawan domestik mencapai 3.000 orang setahun. “Selama Januari – Maret saja, ada 250 – 300 wisatawan domestik yang ke Ngadas,” kata Sujak.

Para wisatawan tersebut biasanya menikmati paket tour jalur leluhur, yakni mengenang perjalanan masyarakat  Ngadas menuju Bromo untuk melakukan upacara kasada. Selain itu juga tour kampung, yakni jalan-jalan menyusuri kampung Ngadas, mengunjungi sekolah-sekolah, tempat sakral, tempat ibadah dan melihat aktivitas masyarakat.  Wisatawan juga bisa menginap di home stay yang jumlahnya 46 unit.  (bri/mat)