Berada di Kompleks Dinas Pendidikan, Makam Isteri Pahlawan Kabupaten Malang Kurang Terurus

Makam Puteri Probo Retno, istri pahlawan di belakang kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Jawa Timur yang kurang terurus.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Jika berkunjung ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Jawa Timur, di Jalan Raya Panarukan 01 Kepanjen, tepat di belakangnya,  terdapat makam Puteri Probo Retno, isteri mendiang Raden Panji Pulang Jiwo,  salah seorang pahlawan dari Kadipaten Malang. Sayang,  makamnya  kurang terurus.

 

 

HAL INI disayangkan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kabupaten Malang, Hari Sasongko. Padahal, keberadaan Raden Panji Pulang Jiwo sudah melegenda sebagai tokoh pahlawan Kadipaten Malang. Bahkan namanya diabadikan pada ruang rapat  gedung Kesekretariatan Pemerintah Kabupaten Malang, di Jalan Panji Kepanjen.

Ketua DPRD Kabupaten Malang, Hari Sasongko.

Hal ini disayangkan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kabupaten Malang, Hari Sasongko.  ”Sebagai  makam tokoh lokal dari Kabupaten Malang, semestinya makam Puteri Probo Retno mendapat perhatian lebih, apalagi letaknya tepat di areal Kantor Dinas Pendidikan, ” kata  Hari Sasongko, Jumat (16/11/2018).

Ketua DPRD yang juga pegiat budaya dan sejarah ini berkisah tentang asal muasal makam Puteri Probo Retno. Menurut Sasongko, Puteri Probo Retno adalah anak  Adipati Malang di era tahun 1600-an. ”Waktu Kerajaan Mataram ingin melakukan ekspansi ke arah timur, sejumlah Kadipaten, seperti Ponorogo, Madiun, Blitar, dan Kediri,  telah ditaklukan oleh Mataram yang dipimpin Sultan Agung,”jelas Hari.

Upaya Sultan Agung ingin menguasai wilayah timur Jawa mendapat pertentangan dari Kadipaten Malang, yang salah tokohnya adalah Raden Panji Pulang Jiwo. Raden Panji Pulang Jiwo berasal dari Madura, dan diambil menantu oleh Adipati Malang setelah sebelumnya dia berhasil memenangkan sayembara dengan mengalahkan Roro Probo Retno dalam suatu adu laga.

Untuk melawan agresi Mataram, Adipati Malang memerintahkan Raden Panji Pulang Jiwo agar memimpin pasukan melawan Mataram. “Sewaktu berperang memimpin pasukan, ternyata Puteri Probo Retno juga mendapat serangan pasukan Mataram, sehingga meninggal di ujung tombak Kyai Plered. Sejak saat itu ada mitos, tuah Kyai Plered berkurang karena ditusukan kepada perempuan,”papar Ketua DPRD Kabupaten Malang.

Sasongko melanjutkan kisahnya, kabar kematian isteri dan puteranya diterima oleh Raden Panji Pulang Jiwo. Namun untuk memastikannya, Raden Panji pulang dari medan laga ke Kadipaten Malang.  “Karena kesaktian Raden Pulang Jiwo, maka pihak musuh memakai siasat dengan mendirikan panggung yang sekarang terletak di Desa Panggungrejo, Kepanjen. Di atas panggung tersebut ada Puteri Pembayun, yang didandani mirip Puteri Probo Retno, kemudian disuruh memanggil Raden Panji,”kisah Hari.

Mendengar suara yang memanggil mirip suara isterinya, Raden Panji bergegas mendatangi, namun sayang, rencana tipu muslihat lain sudah dipersiapkan musuh untuk menghabisi keturunan Cakraningrat ini.

Sebelum panggung tempat Puteri Pembayun berada, telah dibuat jebakan berupa sumur yang kemudian di atasnya diberi tumpukan dedaunan. Nahas, Raden Panji pun terperosok ke dalam lubang celaka tersebut, sehingga dengan mudah pasukan Mataram menghabisinya.

“Dari kisah ini kemudian timbul Kota Kepanjen. Bahkan nama Raden Panji diabadikan untuk sebuah nama jalan di Kepanjen,” kata alumni Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang.

Karena nilai sejarah  itulah, menurut Hari, sudah selayaknya makam Puteri Probo Retno mendapat perhatian yang besar dari Pemerintah Kabupaten Malang. “Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya,”pungkasnya. (diy)