Astadasa Kottamaning Prabhu (1)

Konsep Kepemimpinan Jawa Kuno

K.NG. H Agus Sunyoto.

Di tengah kecarut-marutan kehidupan masyarakat Indonesia akibat melimpah-ruahnya konsep-konsep yang mengalir dari fenomena liberalism telah menimbulkan kemandegan dan kebekuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setiap kali orang membincang soal pemerintahan – dari tingkat desa sampai ibukota – yang muncul dalam stigma pemikiran adalah keberadaan uang sebagai panglima, yang disebut money politic. Akibat fenomena itu, orang seorang di antara anak bangsa ini hanya mungkin menjadi pemimpin di tingkat desa, kabupaten, propinsi, dan bahkan nasional jika didukung kekuatan uang.

Akibat langsung dari fenomena ‘uang sebagai panglima’ adalah kejungkir-balikan nilai-nilai kepemimpinan yang selama ratusan tahun telah menjadi gagasan, konsep, pandangan, ide-ide, dan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia. Akibat kemenangan berbasis uang, lahir pemimpin-pemimpin bodoh, curang, tidak jujur, licik, bahkan kurang waras. Masyarakat pun tidak lagi memiliki parameter untuk menetapkan kriteria pemimpin yang pantas memimpin mereka, karena citra pemimpin dewasa ini sudah identik dengan uang. Siapa yang memiliki uang – meski tidak waras dan sangat tolol – akan dipilih menjadi pemimpin oleh rakyat.

Lepas dari pertimbangan penting dan tidak penting, mengetahui dan memahami gagasan, pandangan, ide-ide, wawasan, konsep-konsep, dan nilai-nilai kepemimpinan yang pernah diletakkan oleh leluhur bangsa adalah sebuah keniscayaan. Dengan memahami konsep kepemimpinan leluhur, anak-anak bangsa akan mengetahui bagaimana kebesaran dan keagungan bangsanya di masa silam yang tidak saja berkuasa dan berdaulat di negeri sendiri melain-kan berhasil pula memakmurkan dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyat negerinya. Di antara gagasan kepemimpinan yang pernah diterapkan di Indonesia masa silam adalah yang dikenal dengan sebutan Astadasa Kottamaning Prabhu, yang paparan ringkasnya sebagai berikut:

1. Wijaya
Seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan, karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan. Hanya pemimpin bijaksana yang akan memenangkan segala macam permasalahan.

2. Mantriwira
Seorang pemimpin harus berani membela dan menengakkan kebenaran dan keadilan, tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun. Pemimpin tidak boleh sarat pamrih karena pamrih akan menimbulkan tekanan dan rasa takut atas sesuatu.

3. Natangguan
Seorang pemimpin harus bersifat amanah sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut, sebagai tanggungjawab dan kehormatan.

4. Satya Bakti Prabu
Seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tiggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa dan negara.

5. Wagmiwak
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan, serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.

6. Wicaksaneng Naya
Seorang pemimpin harus bijaksana dan pandai berdiplomasi serta pandai mengatur strategi dan siasat.

7. Sarjawa Upasama
Seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, bersikap mentang-mentang menjadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.

8. Dirotsaha
Seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.

9. Tan Satresna
Seorang pemimpin tidak boleh memihak dan pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasai segala paham golongan. Sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk menyukseskan cita-cita bersama.

10. Masihi Samasta Buwana
Seorang pemimpin harus mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.

11. Sih Samasta Buwana
Seorang pemimpin harus dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin harus mencintai rakyatnya.

12. Negara Gineng Pratijna
Seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

13. Dibyacita
Seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan inspiratif).

14. Sumantri
Seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.

15. Nayaken Musuh
Seorang pemimpin harus dapat menguasai musuh-musuhnya, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri (nafsunya/sadripu).

16. Ambeg Parama Arta
Seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengu-tamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum. Pemimpin tidak diperkenankan mengutamakan kepentingan diri pribadi.

17. Waspada Purwa Arta
Seorang pemimpin harus selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan dari kelemahan dan kekerangannya.

18. Prasaja
Seorang pemimpin harus berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya, bermegah-megah, hidup serba gemerlap.* (bersambung)