Arkeolog Kaji Situs Selobanteng

Para arkeolog melakukan penelitian Situs Selobabteng (Situs Batu Banteng), Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Inskripsi Jawa Kuna yang tertera di lambung sebuah wadah dari batu atau bejana air berkepala lembu, dikaji oleh Arkeolog Suwardono, Sejarawan Rakai Hino dan Tim Cagar Budaya YMBS (Yayasan Museum Balumbung Situbondo), Senin (12/10/2020) sore.

 

KAJIAN efigrafi dan ikonografi yang dilakukan di Situs Selobanteng (Situs Batu Banteng), Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menghasilkan informasi penting. Diduga, area dengan topografi perbukitan tersebut merupakan wilayah kependetaan.

Para arkeolog melakukan penelitian Situs Selobabteng, Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

“Brahmana yang disimbolkan dengan lembu memberikan pesan-pesan dan maksud tersendiri untuk kita pelajari. Lembu Kamadanu adalah karakter dari artefak ini. Wadah yang sekilas mirip bak mandi berfungsi sebagai transformasi bahwa betapa berharganya air sebagai sumber kehidupan,” ucap Suwardono.

“Di sini menjadi semacam air suci. Dalam kisah Samudera Mantana bagaimana proses-proses penyucian itu berlangsung. Dan kita mendapat gambarannya secara kontekstual,” lanjutnya.

Para arkeolog melakukan penelitian Situs Selobabteng, Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Rakai Hino pun mengutarakan pendapatnya, bahwa artefak itu mirip penggambaran Tambra Goh Muka sebagaimana relief di Candi Jago. “Ya mirip Tambra Goh Muka yang di relief Candi Jago di Malang, ” ujarnya.

Dia juga meralat laporan SPSP (Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala) tahun 1988 yang menerjemahkan angka tahun prasasti. Pada laporan lama tertera 1324 Saka/1402 Masehi. “Yang tepat 1325 Saka/1403 Masehi. Tulisannya masih sangat jelas. Angka terakhir Jawa Kuna itu 5,  bukan 4,” terangnya.

Hal senada diungkap Irwan Rakhday, pegiat sejarah setempat yang tergabung dalam tim bahwa karakter tulisan timbul pada artefak tersebut lebih identik 1325 Saka. “Saya kira demikian (1325 Saka, red) dari pengamatan secara mendetail, apalagi jika kita pahami font-nya memang khas karakternya,” kata Irwan.

“Jadi, kalau dikonversi pada pertanggalan masehi adalah tahun 1403 Masehi. Ini berarti 3 tahun sebelum terjadi perang paregreg di wilayah ini,” tuturnya.

Irwan mengatakan, Suwardono yang ahli dalam epigrafi akan memindai hasil pemotretan 22 huruf ke dalam komputer. “Tentu setelah diproses gelap-terang hurufnya dalam layar komputer akan lebih jelas pembacaannya,” pungkas Irwan.  (div/mat)