Arek Wajak Juara Festival Sinden

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Ifani Dwi Nur S, menjadi juara pertama Festival Sinden Kabupaten Malang 2018, Selasa (03/07/2018). Perwakilan Kecamatan Wajak ini menyisihkan 14 finalis  lainnya, dan  berhak atas hadiah uang tunai dan trophy dari Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna.

 

Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna didampingi Kadiparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara menyerahkan hadiah dan throphy kepada pemenang terbaik Festival Sinden Kabupaten Malang, Ifani Dwi Nur S.

EVENT ini yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang ini sebagai salah satu bentuk untuk uri-uri budaya Jawa. “Dari sebuah kepedulian dan keprihatinan, melahirkan sebuah ide berupa Festival Sinden. Festival ini bisa diikuti warga Kabupaten Malang dengan batasan usia di bawah 30 tahun,” kata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Made Arya Wedhantara.

Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh peserta, pemerhati seni budaya, dan para pendukung event. Dia berharap, dari festival ini mampu turut menjaga tradisi sebagai sinden agar  tidak sampai surut peminatnya.

”Festival Sinden ini sebagai upaya mendorong dan membuka ruang lebih luas bagi para pelaku seni budaya tradisional. Selain itu, anak muda turut senang dan mencintai kesenian tradisional agar budaya bangsa kita ini tetap terjaga. Kita bisa lihat, peserta festival ini, kalau dihitung semua, sejak tingkat kecamatan,  jumlahnya ratusan, mulai dari SD,” ujar  Rendra usai menyerahkan hadiah bagi pemenang.

Ia menambahkan, setelah Pemerintah Kabupaten Malang menggelar Festival Sinden, ternyata anak-anak muda Kabupaten Malang tertarik turut andil dalam lomba ini. Seluruhnya perlu turut serta terus melestarikan kebudayaan Jawa ini, khususnya seni sinden ini, sehingga tidak sampai hilang karena tidak ada lagi pemimpinnya dan pelakunya. Pasalnya, generasi muda saat ini cenderung lebih tertarik pada seni kontemporer.

”Saya melihat, dalam seni tradisional Jawa yang disampaikan melalui tembang dan dibawakan oleh sinden ini, tercatat bahwa bahasa dalam gending itu, disampaikan tidak dalam konten denotatif melainkan konotatif. Jadi,  kata dan kalimat tersampaikan penuh kesopanan, tidak disampaikan secara vulgar, melainkan secara kiasan. Hal itu menjadi daya tarik karena masyarakat Jawa dan Indonesia itu tidak kasar namun halus serta perwatakannya tidak kasar. Kalau ada sesuatu disampaikan melalui pola pengertian terlebih dahulu, barulah maksud dan tujuan aslinya,” terang bupati. (mat)