Air Laut Selat Madura Terbelah Dua Warna

Air laut Selat Madura dua warna.

SURABAYA, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Kejadian tidak seperti biasa terjadi dipermukaan air laut di Selat Madura bawah Jembatan Suramadu. Warga yang melintas di Jembatan Suramadu mengira peristiwa yang sempat viral ini akibat tercemar limbah minyak. Namun belakangan diketahui kejadian tersebut merupakan fenomena alam yang disebut Halocline dan bukan pencemaran.

 

Badan Pengembangan Wilayah Suramadu saat meninjau lokasi.

KONDISI di Selat Madura bawah Jembatan Suramadu yang sempat nampak air laut terbelah menjadi dua warna, yakni hitam dan coklat, seperti tidak menyatu dan terpisahkan oleh buih.  Hal ini mengundang pengguna jalan yang melintas di jembatan yang menghubungan Surabaya dengan Madura, untuk mengabadikan kejadian langka tersebut dengan kamera ponsel mereka. Warga mengaku baru melihat kejadian ini, meski tiap hari melintas di Suramadu. Warga awalnya beranggapan laut tercemar limbah minyak.

“Baru kali ini saya melihat yang aneh seperti ini. Padahal saya sering lewat Suramadu tapi tidak pernah tahu yang seperti ini. Kayak lautnya tercemar,” papar Farid, salah seorang pengguna Jembatan Suramadu yang terpaksa berhenti untuk melihat fenomena aneh dibawa Jembatan Suramadu.

Sementara Badan Pengembangan Wilayah Suramadu atau BPWS menjelaskan, perbedaan warna permukaan laut ini bukan karena limbah melainkan fenomena alam di laut yang disebut Halocline. Halocline terjadi akibat pertemuan dua arus air laut, yang satu memiliki kandungan garam rendah dan satunya memiliki kandungan garam yang lebih tinggi, sehingga nampak dua warna arus air laut yang sangat berbeda.

“Air laut dengan warna kehitaman dimungkinkan karena tercampur dengan air tawar yang berasal dari darat. Lalu disisi lain yang berwarna abu-abu seperti jernih merupakan murni air laut. Penjelasan ini juga diperkuat dengan beberapa sebab, arus bawah laut diketahui sangat besar sehingga ada perbedaan suhu, kadar garam hingga kerapatan air. Berbeda dengan air tawar yang memiliki karakteristik tersendiri,” ungkap Humas BPWS Faisal Yasir Arifin, Rabu (20/03/2019).

Fenomena Halocline ini tidak hanya terjadi di Selat Madura namun juga terjadi pada arus Selat Gibraltar yang menjadi pertemuan antara laut tengah atau mediterania, dan air dari samudera atlantik. Pertemuan ini tidak menyebabkan air bersatu, bahkan tampak menggaris atau memiliki batas. (ang)