73 Tahun Merdeka, Budaya Harus Diperkuat

Ketua DPRD Kabupaten Malang, Jawa Timur, Hari Sasongko mengenakan pakaian wayang.

MALANG, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia sudah memasuki usia 73 tahun. Ketua DPRD Kabupaten Malang, Jawa Timur Hari Sasongko berharap agar pemerintah menjaga kebudayaan nasional yang merupakan karakter bangsa.

 

Hari Sasongko.

HARI SASONGKO menjelaskan, kemajuan suatu bangsa bisa dilihat dari kebudayaannya. Budaya bukan sekedar tari-tarian, lagu, seni lukis, atau drama. “Budaya itu juga perilaku, kebisasaan, pola pikir, dan pola hidup. Lewat kebudayaan tergambar bagaimana karakter dan kemajuan yang sudah dicapai oleh suatu bangsa,” katanya usai mengikuti upacara HUT Kemderkaan RI ke-73 tahun, Jumat (17/08/2018).

Menurut politisi PDIP ini, Indonesia yang memiliki ribuan suku bangsa, mempunyai kemajemukan,  justru menambah kaya kebudayaan nasional. “Kemajemukan itu harus dipandang sebagai aset kebangsaan. Memang, untuk menjaganya adalah tantangan tersendiri. Namun kita sudah mempunyai slogan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai strategi budaya. Itu adalah pemersatu kebudayaan nasional kita,” tegasnya.

Selama 73 tahun Indonesia merdeka, budaya nasional sebagai karakter bangsa, pasti mengalami dinamika, dan mengalami gesekan kebudayaan. “Budaya itu harus mengalami proses akulturasi. Artinya, gesekan budaya, baik dengan sesama budaya dalam negeri maupun luar negeri, pasti terjadi. Tinggal bagaimana kita, pemerintah, budayawan, politisi dan masyarakat bisa melakukan penguatan terhadap budaya daerah, sehingga akulturasi atau perpaduan budaya tetap bercirikan budaya lokal atau nasional, ” katanya.

Sebagai budayawan, alumni Fakultas Imu Administrasi Negara Universitas Brawijaya Malang ini mencontohkan musik dangdut. Menurutnya, musik dangdut aslinya merupakan musik etnik India. Ketika masuk ke Indonesia, kemudian bersentuhan dengan gamelan, sehingga  bisa melahirkan musik campursari.

“Akulturasi bisa menambah kekayaan budaya nasional kita. Namun pemerintah harus tetap ada agar jangan sampai akulturasi mengalahkan kebudayaan lokal atau nasional kita, ” bebernya.

Untuk melindungi dan memajukan kebudayaan nasional, menurut Sasongko, pemerintah sebenarnya sudah membuat UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Mengenai perkembangan kebudayaan di Kabupaten Malang, Hari Sasongko berharap, mengacu pada UU Pemajuan Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Malang sudah bisa menyumbangkan pokok-pokok pemajuan budaya daerah. “Harapan kita, ditahun ini, Pemkab Malang sudah bisa memberikan pokok-pokok kemajuan kebudayaan daerah, akan dibentuk tim yang ditunjuk oleh bupati, dimana anggotanya adalah leading sector dari OPD terkait, seperti Bappeda, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan serta melibatkan masyarakat, baik budayawan maupun praktisi dari civitas perguruan tinggi,”terangnya.

Pria asal Tajinan, Kabupaten  Malang ini menambahkan, dengan segera terwujudnya pokok-pokok budaya daerah di Kabupaten Malang, nantinya bisa melindungi dan memberikan pengayoman terhadap budaya asli Kabupaten Malang. “Di situ nanti akan digali budaya daerah, khususnya Kabupaten Malang sebagai bentuk dari budaya nasional,”ungkapnya.

Menurutnya, penting bagi Pemkab Malang untuk segera mewujudkan pokok-pokok kebudayaan daerah,  karena hal tersebut bisa untuk mempercepat proses penemuan jati diri generasi muda sebagai pewaris kebudayaan.

“Generasi muda memang mempunyai masanya. Ada waktunya mereka ingin mencoba-coba hal yang baru sebagai aktualisasi eksistensinya dalam proses pencarian jati diri. Namun saya yakin, pada akhirnya, mereka akan kembali ke  budaya asli. Di sini peran pemerintah diperlukan untuk mempercepat proses penemuan jati diri itu, melalui pokok-pokok kemajuan kebudayaan daerah itu tadi,”tegasnya.

“Pengambil kebijakan harus lebih mengetahui arah strategi, kemana kebijakan itu dibuat. Artinya, bagaimana perumusan APBD, kebijakan anggaran bisa lebih diarahkan kepada penguatan budaya kita. Jangan sampai karena lebih mengurusi hal lain, tapi masalah kebudayaan sebagai karakter bangsa malah terpinggirkan,”tambah Hari Sasongko.

Disinggung mengenai kekerasan yang semakin marak dan ditakutkan menajdi ‘budaya kekerasan’, Hari mengatakan, jika masyarakat memahami nilai Pancasila, maka hal itu tidak perlu ditakutkan akan terjadi. “Dengan kembali ke Pancasila sebagai strategi budaya, dalam sila kedua Pancasila, nilai humanisme secara gamblang sudah dijabarkan. Tinggal bagaimana penerapannya,” pungkas Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang ini. (diy)