35 Tahun Umi Kulsum Menggeluti Industri Alat Dapur

Industri rumahan di Kabupaten Malang, Jawa Timur cukup berkembang. Salah satunya industri alat-alat dapur, seperti wajan, dandang, sotel, dan sebagainya. Umi Kulsum (49) dan suaminya, Mahfud (57), warga Dusun Tunjungsari RT 26/RW 6, Desa/Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang sudah 35 tahun menggeluti usaha ini. Pasarnya pun sudah menyebar ke semua pelosok negeri.

Umi Kulsum, perajin alat dapur di Bantur, Kabupaten Malang menunjukkan hasil kerajinannya.

Saat ditemui di rumahnya belum lama ini, Mahfud tampak sibuk menerima telepon. Hanya mengenakan celana panjang tanpa baju, dia tampak serius menerima telepon dari seseorang. “Dengan istri saya saja ya,” katanya ramah.
Tak lama berselang, istrinya, Umi Kulsum, tampak keluar dari rumah. Wanita cantik ini banyak bercerita tentang kerajinan alat-alat dapur yang sudah ia geluti sejak 35 tahun silam. “Apa saja saya buat. Ada wajan, maron, dandang subluk, oven, sotel dan sebagainya. Ukurannya pun beragam, ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang tebal, ada yang tipis,” jelasnya

Harganya pun bervariasi, tergantung ukuran dan tebal tipisnya alat dapur. Wajan misalnya, dengan ketebalan 2 milimeter (mm), lebar 40 cm, dipatok harga Rp 75 ribu per buah. Sedangkan untuk ukuran besar, yakni tebal 5 mm, lebar 1 meter, dipatok Rp 2,250 juta per buah. “Harganya tergantung ukuran dan tebal tipisnya barang. Semakin tebal, semakin besar, tentu harganya semakin mahal,” jelas Umi Kulsum.
Dalam sehari, usaha keluarga ini mampu memproduksi 30 unit untuk berbagai produk. Jumlah ini sudah lebih dari cukup, karena karyawannya pun tak banyak, hanya 5 orang. “Bagiannya sudah sendiri-sendiri. Ada yang bagian membuat wajan, tutup dandang, buat dandang, sotel dan sebagainya. Karena itu hasilnya pun tak banyak, hanya 30 buah per hari,” jelasnya.

Sedangkan untuk bahan baku, masih kata ibu dua anak dan dua cucu yang masih tampak muda ini, didapat dari Surabaya. “Suami saya kulakan ke Surabaya. Mereka kirim langsung ke sini. Bahkan, beberapa perajin yang sama dengan saya, juga kulakan bahan baku dari saya,” jelasnya.

Lalu, bagaimana dengan pemasaran? “Saya tidak pernah jual langsung ke daerah-daerah, karena para pedagang sudah mengambil sendiri ke sini. Mereka ada yang datang dari Malang, Pakisaji, Gunung Kawi dan Blitar. Apakah barang-barang ini mereka jual ke daerah lain, saya juga tidak tahu. Yang jelas, saya tidak jualan ke daerah lain, kasihan pedagang yang beli ke sini. Saya hanya jual di Pasar Bantur saja, karena di situ saya punya bedak,” terangnya.

Tidak hanya hasil kerajinan alat-alat dapur yang dijual, limbah bekas pembuatan alat dapur tersebut, seperti potongan aluminium hingga debu bekas serpihan aluminium pun masih laku dijual. Limbah bekas potongan dan debu aluminium itu dikirim langsung ke Sidoarjo untuk selanjutnya diproses lagi menjadi danganan (pegangan) dandang.

“Sebelum dibentuk jadi danganan wajan atau dandang, limbanya itukan dibubur dulu. Untuk itu kami kirim ke Sidoarjo. Harganya lumayan, cukup untuk beli bensin,” kata Umi tersenyum.*