15 Bocah Belasan Tahun Terjebak di Gunung Butak

BATU, TABLOIDJAWATIMUR. COM – Akibat mendaki Gunung Butak di Kota Batu tanpa pengetahuan dan persiapan yang matang, sebanyak 15 pendaki terjebak di ketinggian 2.868 mdpl (meter di atas permukaan laut) karena tak bisa turun. Mereka harus dievakuasi Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Jawa Timur,  Senin (29/04/2019).

 

Relawan PMI Kota Batu melakukan pendataan terhadap pendaki yang terjebak di Gunung Butak, Batu, Jawa Timur.

 

Dua bocah dari 15 bocah yang terjebak di Gunung Butak, Batu, Jawa Timur.

MEREKA yang terjebak di Gunung Butak itu di antaranya, Fatimathur (14), Andi Siswanto (18), Selvi Desi (15), Fitriana Puspitasari (18), Ferhan Kristiantoro (18), semuanya  warga Kediri, Jawa Timur.

Menurut Kepala BPBD Kota Batu, Sasmito, pihaknya menerima laporan ada pendaki yang tersesat di Gunung Butak dini hari tadi. “Kejadiannya, sebanyak 15 pendaki yang tersesat di tanjakan PHP, Gunung Butak, Minggu malam pukul 21.00 WIB. Kami menerima laporan pukul 02.30 WIB dan langsung mengirimkan personil untuk melakukan evakuasi. Mereka banyak yang mengalami hipotermia karena kedinginan. Namun  semua survivor pagi hari sudah bisa diselamatkan semua. Sekarang sebagian menjalani perawatan di rumah sakit,” jelas Sasmito.

Menurutnya, para pendaki yang rata-rata berusia belia itu, terbagi dalam beberapa kelompok pendakian. Mereka mulai mendaki dari Gunung Panderman sejak Sabtu, (27/04/2019).

“Saat mau turun hari Minggu dari Gunung Butak, mereka terjebak di Tanjakan PHP, dan tidak bisa turun karena jalanan licin akibat hujan. Karena kondisi kemiringan yang terjal, mereka akhirnya tidak bisa mendirikan tenda, sehingga kedinginan dan kelaparan,” ungkap Sasmito.

Dalam cuaca suhu ekstrim, ke 15 pendaki yang kebanyakan berasal dari Kediri itu  mengalami hipotermia. Beruntung mereka bisa segera dievakuasi dan diselamatkan oleh regu penolong.

Menanggapi terjebaknya ke 15 pendaki di Tanjakan PHP Gunung Butak, Teguh Prijatmono,  salah satu pendaki senior di Gimbal Alas, menekankan pentingnya dasar pengetahuan dan persiapan yang matang saat melakukan pendakian gunung.

“Jika saya lihat, usia mereka rata-rata masih belasan. Saya menduga, mereka mendaki Gunung Butak tanpa pengetahuan dan persiapan matang. Banyak yang meremehkan dengan ketinggian 2.868 mdpl (meter di atas permukaan laut), Gunung Butak akan mudah pendakiannya. Nyatanya mereka justru terjebak di Tanjakan PHP,yang bisa jadi disebabkan tidak paham dengan medan yang ada,” kata Teguh.

Padahal,  lanjut pria yang akrab disapa Pak Puh oleh para pendaki ini, dalam mendaki gunung,  ada aturan dasar yang harus diketahui. “Kita bermain di alam bebas, dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Karena itu persiapannya harus benar-benar serius. Jangan meremehkan alam. Saat mendaki,  kita harus tahu jalur pendakian dan kondisi medan yang akan kita lalui. Ormed atau orientasi medan sangat penting, untuk menetukan lama pendakian kita. Kemudian persiapan fisik, logistik,  dan peralatan kita harus memadai,” beber aktivis Gimbal Alas ini.

Sebagai pendaki yang sudah berpengalaman, Teguh juga menyayangkan para penjaga di loket masuk atau pos pendaftaran pendakian yang meloloskan para pendaki tanpa peralatan dan persiapan. “Seharusnya para penjaga bisa melakukan pengwasan dan penyeleksian, pendaki yang masih pemula tanpa persiapan alat atau hanya bondo nekat, tanpa ada pendamping yang sudah pengalaman, jangan diijinkan naik. Mereka harus tegas, karena ini soal keselamatan nyawa,” tegasnya.

“Selain faktor keselamatan di atas, seringkali —mohon maaf— pendaki usia belasan yang tidak paham bagaimana menjaga kelestarian alam ini, di atas justru kerap melakukan aksi vandalisme. Seperti corat-coret di batu atau mengurat batang pohon atau membiarkan sampah tanpa mau membawa turun. Ini yang menjadi keprihatinan kami,” pungkas Pak Puh. (diy)