100 % Balita Kabupaten Malang Bebas Polio

Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna mencanangkan PIN 2016

Kesehatan merupakan aspek penting dari Hak Asasi Manusia (HAM), sebagaimana disebutkan dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 10 November 1948 dan Undang-Undang Dasar 1945. Hak atas kesehatan ini bermakna bahwa Pemerintah harus menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap individu untuk hidup sehat, dengan upaya menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang memadai dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat.

Hal ini juga merupakan tugas Pemerintah Daerah. Karena itu Pemerintah Kabupaten Malang, Jawa Timur melaksanakan Pencanangan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia, mulai 8 – 15 Maret 2016. Untuk Kabupaten Malang, dipu-satkan di Posyandu Cempaka, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis oleh Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna bersama Ketua Tim Penggerak PKK, Hj. Jajuk Rendra Kresna, Selasa (8/3/2016).
“Program imunisasi ini merupakan salah satu program kesehatan yang paling efektif dalam pembangunan ke-sehatan, utamanya dalam Pengendalian Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti polio,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Abdurrachman.
Dia menambahkan, Pekan Imu-nisasi Nasional (PIN) 2016 untuk Kabu-paten Malang akan menyasar anak usia 0 – 59 bulan yang secara total jumlahnya 193.775 anak. Pemberian imunisasi nantinya akan dilaksanakan di Posyan-du, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Rumah Sakit serta pos pelayanan imuni-sasi lainnya di bawah koor-dinasi Dinas Kesehatan Kabupaten Malang.
“Pemberian imunisasi dilakukan pada semua balita tanpa melihat status imunisasinya. Artinya, apakah sudah menda-patkan imunisasi polio atau belum, tetap diberi,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna menjelaskan, pencapaian target program imunisasi memerlukan dukungan dari semua pihak. Untuk itu dibutuhkan komitmen seluruh elemen kesehatan dan semua pihak untuk bersama-sama melakukan upaya pelaksanaan tahapan kegiatan menuju bebas polio pada tahun 2020.
Jika hal ini dapat diwujudkan, ini adalah sebuah prestasi besar kedua yang dicapai masyarakat dunia di bidang kesehatan setelah pembasmian atau Eradikasi Cacar atau Variolla tahun 1974.
“Saya mohon kepada seluruh jajaran pejabat di Kabupaten Malang, camat, kepala desa, lurah, dibantu oleh kader-kader kesehatan agar 193 ribu lebih anak di Kabupaten Malang dapat mendapatkan imunisasi polio,” kata Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna seraya menambahkan program ini termasuk dalam program 100 hari kerja Madep Manteb Manetep (M3).
“Seperti halnya perintah Kemenkes, bagi orang tua yang anaknya tidak mau di PIN atau diimunisasi karena menganggap anaknya sehat atau apa, maka orang tuanya harus membuat surat pernyataan tertulis. Agar dikemudian hari pemerintah tidak dijadikan kambing hitam kalau ternyata masih ada anak yang kena polio. Ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah agar seluruh bayi-bayi kita bisa di imunisasi semuanya.” tambah bupati.
Kepala Dinas Kesehatan Abdurrahman menjelaskan, pihaknya terus memaksimalkan program-program yang ada. Salah satunya, Puskesmas yang memiliki tingkat kunjungan besar, harus segera difasilitasi dengan berbagai macam pelayanan, seperti rawat inap. “Sebagai Kabupaten Sayang Ibu, puskesmas-puskesmas memiliki program meningkatkan fasilitas yang ada hubungannya dengan gerakan sayang ibu, di antaranya penanganan cepat, akurat, dan pojok laktasi,” terangnya.
Terkait dengan PIN, dr. Abdurrahma, M. Kes menjelaskan, PIN di Kabupaten Malang akan menyasar 193.755 balita, dengan Pos PIN 2.978, kader kesehatan yang telah dilatih PIN sebanyak 11.820 kader, dan 780 tenaga kesehatan.
“Meski target nasional hanya 90 % balita harus bebas polio, namun di Kabupaten Malang harus penuhi target 100 % bebas polio. Mudah-mudahan anak Indoneia bebas polio dan menjadi anak yang cerdas dan sehat. Yang nantinya bisa menjadi pemimpin bangsa yang hebat,” tambah Abdurrachman.

Fasilitas Kesehatan Sayang Ibu, Bayi dan Anak

Selain ada PIN, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang juga melakukan pencanangan Fasilitas Kesehatan Sayang Ibu, Bayi dan Anak. Menurut Abdurrahman, pencanangan fasilitas seperti ini merupakan suatu langkah yang sangat strategis guna mendukung optimalisasi 1000 Hari Pertama Kehidu-pan (Golden Period), masa / periode yang sangat menentukan masa depan generasi penerus.
Oleh sebab itu cara terbaik untuk memaksimalkan Golden Period, khu-susnya guna mencegah stunting adalah memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang baik dan memastikan gizi anak setelah lahir.
“Melalui pencanangan program ini, diharapkan dengan pencanangan fasilitas kesehatan ini bisa mewujudkan generasi Kabupaten Malang yang sehat, cerdas dan bermartabat di masa yang akan datang,” kata Abdurrahman.
Ada sembilan fasilitas kesehatan di Kabupaten Malang yang telah berkomitmen untuk menjadi Fasilitas Kesehatan Sayang Ibu, Bayi dan Anak. Di antaranya, Puskesmas Turen, Dam-pit, Pamotan, Tumpang, Puskesmas Pakis, RSUD Kanjuruhan, RSUD La-wang, RS Bala Keselamatan Turen dan RS Budi Asih Turen.w